Teknologi digital dalam satu dekade terakhir mulai mengalami perkembangan yang cukup pesat baik dari kecanggihan maupun dari posisinya di masyarakat. Perlahan-lahan teknologi digital mulai menjadi gaya hidup yang tidak bisa ditinggalkan. Tidak hanya sebatas untuk proses komunikasi, teknologi digital seolah menjadi bahan bakar baru untuk berkehidupan, mulai dari kegiatan sosial seperti pengumpulan bantuan bencana hingga untuk kegiatan bisnis, seperti promosi dan pengelolaan aset. Startup atau perusahaan rintisan adalah satu dari banyak fenomena yang hadir berkat dari tingginya penggunaan teknologi digital. Diinisiasi di Amerika, tepatnya di Silicon Valley akhirnya startup mulai menyeberang dan sampai di Indonesia. Kita tahu nama-nama startup seperti Go-Jek, Bukalapak, Tokopedia, dan lainnya. Semua membawa semangat yang sama, semangat memberikan cara hidup dan penghidupan baru bagi masyarakat, tentunya menggunakan media digital.
Dari tiga nama yang disebutkan di atas memiliki caranya masing-masing. Bukalapak dan Tokopedia yang kita ketahui bersama memerankan peran sebagai “pasar online” atau yang lebih dikenal dengan sebutan marketplace, berusaha memungkinkan setiap orang berjualan secara online, secara digital, memanfaatkan penggunaan teknologi internet yang bisa menembus jarak dan waktu. Sedangkan Go-Jek, atau akrab disebut dengan ojek online, memberikan kesempatan para pengendara ojek untuk lebih produktif dan komunikatif dengan para pelanggan mereka dengan memanfaatkan aplikasi digital yang tertanam di perangkat mobile masing-masing. Aplikasi tersebut dengan cepat bisa mengubah kebiasaan pengendara ojek yang semula hanya menunggu penumpang menjadi lebih produktif dengan penawaran-penawaran lainnya seperti jasa antar barang, jasa pesan antar makanan, jasa jemput sekolah, dan lain sebagainya. Ini yang saya maksud dengan startup mulai mengubah cara hidup dan penghidupan masyarakat. Pengguna bisa memaksimalkan layanan sehingga terhindar dari hal-hal membosankan seperti menunggu, macet, dan lainnya. Sementara di sisi lainnya para pengendara ojek bisa memperoleh penghidupan baru, rezeki baru, dengan adanya layanan-layanan tambahan yang mereka berikan. Baik Tokopedia, Bukalapak, atau Go-Jek semuanya tentu paham bagaimana mereka mengubah tatanan sosial yang sudah ada, mengganggu toko-toko konvensional yang buka pagi hari hingga malam hari, mengganggu para pengendara ojek yang sudah punya langganan, dan hal-hal lain yang secara tradisional sudah mapan dan mengisi hari-hari masyarakat. Namun para startup ini juga paham, kehidupan harus terus bergerak, dan saat ini bahan bakar utamanya adalah teknologi digital, teknologi internet, atau kehidupan online.
Salah satu yang menarik perhatian dari transformasi dari kehidupan offline ke online adalah masalah uang, pembayaran, atau apapun itu yang berkaitan dengan ranah finansial. Kalau kita mengikuti pemberitaan media-media sekarang, baik yang mengkhususkan diri mengulas masalah startup atau media umum yang menayangkan soal bisnis istilah finansial teknologi menjadi salah satu fenomena lain di balik startup. Secara sederhana layanan finansial teknologi bisa disebutkan sebagai layanan yang memanfaatkan teknologi (dalam hal ini digital) untuk memberikan pelayanan keuangan seperti pembayaran, investasi dan peminjaman, crowdfunding, asuransi, dan lain sebagainya. Sesuatu yang kompleks dan sensitif dari transformasi kehidupan offline to online.
Ranah finansial menjadi sesuatu yang sangat sensitif, banyak orang-orang, terutama mereka yang sama sekali baru di dunia digital masih ragu untuk menggunakan layanan pembayaran non-tunai. Kurang yakin, tidak puas, dan alasan-alasan yang lain menggambarkan ketidakpercayaan terhadap layanan finansial kerap muncul dari masyarakat. Alhasil, semua penyedia marketplace berusaha menyediakan sebaik dan sebanyak mungkin pilihan pembayaran. Termasuk pendekatan offline to online dengan menggandeng beberapa brand minimarket yang memiliki jaringan atau outlet yang tersebar di Indonesia.
Jika marketplace dengan dukungan dana yang cukup besar saja masih kewalahan mencari dan menyediakan metode pembayaran yang pas, lalu bagaimana nasibnya dengan bisnis baru, yang mencoba membuat layanan e-commerce atau menjual produk mereka sendiri ? adakah solusi lain selain menggunakan transfer bank yang ternyata juga masih belum begitu akrab dengan masyarakat (unbanked) ? jawabannya tentu ada di para pemain finansial teknologi.
Para penyedia layanan finansial teknologi, terutama dalam kasus ini adalah penyedia solusi pembayaran bisa memegang peranan penting untuk berkembangnya industri e-commerce di Indonesia, atau malah bagi industri startup secara keseluruhan. Jika ditengok dari segi teknis, solusi pembayaran memang sesuatu hal yang belum tersedia jalan keluarnya.
Jika membuat toko online atau katakanlah website sederhana sudah dipermudah dengan hadirnya berbagai macam tools, framework, atau jasa pembuatan website yang sudah banyak dijumpai, solusi pembayaran menjadi kasus yang berbeda. Sejauh ini, sependek pengetahuan saya transfer bank menjadi satu-satunya solusi. Jika kemudian pembeli tidak mempunyai akun bank atau memiliki bank yang berbeda mereka akan dikenai biaya tambahan. Sesuatu yang tentu merugikan, baik untuk penjual maupun pembeli.
Selain itu metode pembayaran cash masih menjadi opsi pertama banyak masyarakat di Indonesia. Seperti data yang dikeluarkan Dailysocial baru-baru ini. Dalam laporan berjudul Online Cunsumer Behavior tersebut dilaporkan hampir 90 persen masyarakat Indonesia masih sering menggunakan uang tunai sebagai metode pembayaran layanan on demand yang mereka pakai.
Di titik inilah finansial teknologi tidak lagi menjadi sebuah industri, terpisah dengan yang lainnya. Di titik inilah menjadi bukti bahwa finansial teknologi merupakan katalisator, penghubung, atau bisa dikatakan sebagai pendorong industri-industri lain tumbuh dan berkembang. Jika industri finansial tumbuh dan berkembang secara masif bukan tidak mungkin industri lain juga bisa tertular dampak positifnya. Inilah mengapa pemerintah dan pihak-pihak terkait harus mulai mengatur, menerbitkan regulasi, dan memperjelas batasan-batasan sampai sejauh mana layanan finansial teknologi ini bisa bergerak dan berperan.
Berkat teknologi dan layanan dari para penyedia finansial teknologi industri lain hanya tinggal berfokus pada pasar dan pengguna mereka. Selebihnya, untuk masalah pembayaran dan pernak-perniknya bisa diserahkan pada penyedia layanan finansial teknologi.
Finansial teknologi bak jembatan yang siap mengantarkan pengguna menuju era digitalisasi finansial yang tepercaya. Di ujung lainnya, finansial teknologi juga menjadi bagian penting dalam tumbuh kembang startup karena berkaitan langsung dengan pengalaman pengguna.
Dengan potensi sedemikian rupa selanjutnya selain pemerintah dengan kebijakan dan regulasinya para penyedia layanan atau jasa online sudah harus mempertimbangkan menjajaki kerja sama dengan penyedia layanan finansial, khususnya untuk pembayaran. Sedangkan untuk para pengguna, sudah saatnya mulai membiasakan diri menggunakan metode pembayaran lain selain cash. Tentu untuk membiasakan hal ini masih perlu proses, terlebih untuk masalah kepercayaan. Memang benar tidak ada sebuah teknologi atau sistem yang benar-benar aman, tetapi dengan cara mulai menggunakan layanan finansial teknologi untuk pembayaran kita membantu industri ini tumbuh, industri ini berbenah dan tentunya terus berinovasi. Tidak ada salahnya mulai dari sekarang menaruh kepercayaan kepada penyedia layanan finansial teknologi, mengingat bagaimana peran sentral teknologi ini bagi keseluruhan ekosistem bisnis digital yang ada di Indonesia.
*Sumber Gambar Pixabay